![]() |
| Semangat: Siswa sedang adu tanding dalam lomba bulu tangkis |
Kalau ada
ungkapan bahwa Haflatul Imtihan merupakan lebaran bagi siswa Nasy-atul
Muta’allimin, memang benar. Hal ini terbukti dengan semangat dan kegembiraan
siswa dalam mengikuti beberapa perlombaan. Ya, memang benar ungkapan itu,
karena momen yang seperti ini hanya satu kali dalam setahun.
“Hore,,hore”
teriak sebagian siswa untuk mengobarkan semangat temannya yang lagi adu tanding
dalam lomba bulu tangkis. Setiap hari Nasy-atul Muta’allimin riuah dan ramai.
Inilah semarak Haflatul Imtihan di Nasy-atul Muta’allimin. Dalam momen ini ada
banyak macam lomba, diantaranya adalah lomba catur, pidatu, puisi, bulu
tangkis, cerdas cermat, dan banyak lagi yang lainnya.
Disisi lain,
dalam jalannya pelaksanaan lomba lagi-lagi terganggu dengan cuaca yang seperti
saat sekarang ini. Bapak Sahwari sebagai wakil dari ketua umum kordinator lomba itu
mengatakan ketika ditanya tentang hal ini: “Jalannya lomba kurang lancar.
Banyak penanggung jawab yang tidak hadir disebabkan hujan”. Bebernya ketika dihubungi
lewat handpone.
Lanjutnya
lagi ketika ditanya tentang eksistensi lomba dalam Haflatul Imtihan di
Nasy’atul Muta’allimin mengatakan bahwa lomba ini untuk membentuk mentalitas
siswa yang baik. “Lomba ini untuk membentuk mentalitas siswa baik”. Katanya.
Sepanduk-sepanduk
bertuliskan Nasy-atul Muta’allimin sudah terpasang berjajar di pinggir jalan
raya itu menghiasi bumi Nasy-atul Muta’allimin. Ibu-ibu santri TK dan para ustadzah
sedang sibuk-sibuknya melatih anaknya. Ada yang melatih menari, wisuda, dlsb.
Hal ini dilakukan untuk persiapan tampil sempurnah dalam acara puncak nanti.
Di sebelah
barat Madrasah tampak bapak Rahwini sedang bekerja keras dalam menyelesaikan
dekorasi. Setiap malam jam 01.00-02.00 WIB baru istirahat. “Ya ini saya sedang
bekerja keras, setiap malam jam 01.00-02.00 WIB saya baru istirahat”. Kata
bapak Rahwini ketika ditanya. “Hal ini dilakukan takut tidak selesai ketika
malam puncak”. Lanjutnya.
Dari yang
saya lihat, dekorasi itu didesain amat menarik. Didesain merip masjid yang megah.
Pokoknya ini dijamin indah ketika nanti dipasang ke atas panggung.
Di tempat
lain, di depan dhalem KH. As’adi, terlihat bapak Hossin, Misuhri, Rawi,
dan banyak orang yang lainnya, sedang mengikat sapi dengan tambang. Dengan
tindakan lembut mereka melilitkan tali itu ke badan dan kaki sapi. Ketika dilihat
semua siap, “het” katanya orang-orang, robohlah sapi itu. Dengan cepat Padli
menumpangkan pisau keleher sapi itu dan menyembilihnya. Sekejab, darah mengalir
dari leher sapi itu. Begitulah, ketika korban harus berjatuhan. (Sardi)






+ komentar + 1 komentar
Teruslah berkarya Al Jailani
Posting Komentar