Sore (Rabu
12 April) itu langit tidak begitu cerah. Mendung masih memayungi bumi Nasy-atu
Muta’allimin. Terasa sedikit dingin suasan saat itu. Di ruangan, sebelah barat
kantor MA, projector sudah menyala. Lewat projector terlihat jelas di tembok
“Pertemuan Alumni Nasy-atul Muta’allimin Candi Dungkek”. Hari itu bertepatan
dengan hari pembukaan Haflatul Imtihan.
Ya, ruangan
itu memang dijadikan tempat pertemuan alumni sore itu. Ketika jam menunjukkan
ke angka tiga, sudah ada alumni yang hadir termasuk saya sendiri. Saya melihat
kesekitar, masih sedikit alumni yang hadir, saya coba telpon teman-teman yang
seangkatan dengan saya mapun kakak kelas saya. Ternyata, beberapa menit
kemudian teman-teman hadir dan masuk keruangan yang telah disediakan.
Hadirnya
para alumni ternyata menjadi penghangat bagi saya dan teman-teman. Kehangatan
itu disebabkan karena bertahun-tahun tidak berjumpa dan berkumpul dalam satu
ruangan seperti dulu ketika masih sama-sama aktif menjadi siswa. Wajah
teman-teman tidak jauh berbeda masih seperti dulu, masih memancar sebagai siswa
Nasy-atul Muta’allimin.
Dalam
ruangan, pertemuan dipimpin oleh KH. Syafiq wakil kepala MA (WAKA). Selesai
pembukaan, beliau menyapaikan bahwa di ruangan ini tidak ada istilah “Pak” yang
punyak orentasi “guru” yang harus di segani. Di sini semua sama, sama-sama
alumni Nasy-atul Muta’allimin. Beliau melanjutkan, dalam pertemuan ini kita
bahas bersama-sama bagaimana langkah Nasy-atul Muta’allimin kedepan dan juga
sebagai bahan refleksi Madrasah Nasy-atul Muta’allimin.
Semua
teman-teman mulai berfikir dan satu persatu menyampaikan idenya tentang masa
depan Nasy-atul Muta’allimin. Yang menjadi pembicaraan dalam pertemuan, masalah
perpustakaan, mengenai yayasan, dan perencanaan penyusunan biografi pendiri,
KH. Jailani.
Pertama
teman-teman membahas perpustakaan yang sempat mandek beberapa bulan ini. Mereka
(para teman-teman) bermaksud ingin memaksimalkan perpustakaan supaya menjadi
mediator dalam mencerdaskan siswa siswi Nasy-atul Muta’allimin. Mereka kembali
berfikir keras mencari langkah awal untuk mengaktifkan kembali perpustakaan itu.
Waktu terus
berjalan, mereka satu persatu
menyampaikan gagasannya tentang langkah-langkah awal yang harus dibenahi.
Akhirnya, mereka menyepakati membuat Tim dalam memaksimalkan perpustakaan itu.
Tim itu anggotanya ialah saya sendiri (Sardiyono), Syamsi, Hamdan, Rusdiyono,
Salman, Ermawati, dan Rofida.
Ketika
berbicara Tim, saya ingat pada sejarah NU pada tahun 1952-1983. Dimana saat itu
NU mengalami gejolak internal dalam NU sendiri. Saat itu seolah NU bukan
organisasi sosial keagamaan lagi, NU lebih pada organisasi politik. Kantor NU
ramai dan sibuk hanya ketika menyongsong
pemilihan umum. Orang-orang datang dari daerahnya. Khawatir susunan calon tidak
sesuai dengan keinginannya. NU pada saat itu sudah mau kehilangan jati dirinya.
Keadaan ini
diperparah dengan wafatnya Kiai Bisri Syansuri pada tahun 1980. Beliau pada
saat itu memegang amanah sebagai Rais Am PBNU. Akibatnya, kekosongan jabatan terjadi
selama satu setengah tahun. Pada tahun 1981 posisi dipercayakan kepada KH. Ali
Maksum melalui Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta.
Keadaan ini
diperparah lagi oleh dualisme kepemimpinan antara gerbong Idham Khalid yang
dikenal dengan kubu Cipate dan gerbong Kiai Ali Maksum yang dikenal dengan kubu
Situbondo. Setahun kemudian dualisme ini terjadi sampai akhirnya untuk
menyelesaikan konflik, kubu Cipate berencana mengadakan muktamar dan kubu
Situbondo berencana mengadakan Munas Alim Ulama.
Di tengah
keadaan yang seperti itu, aktivis muda NU kerap mengadakan diskusi yang bernama
kelompok G. Anggotanya dr Fahmi D Saifuddin, Said Budairy, Mahbub Djunaidi, M
Zamroni, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dkk. Kelompok G itu setelah berdiskusi
panjang lebar, akhirnya melahir Tim Tuju bertujuan untuk menyampaikan gagasan
tentang Khittah NU 1926. Rumusan itu menjadi pembahasan resmi ketika dalam Munas Alim Ulama di Ponpes
Syalafiayah Syafi’iyah Situbondo. Dan, Tim Tujuh itu akhirnya berhasil.
Itu di NU
sekarang di Nasy-atul Muta’allimin, semoga Tim Nasy-atul Muta’allimin itu juga
meraih keberhasilan sama dengan Tim Tujuh NU itu.
Pembahasanpun
pindah, yaitu mengenai yayasan. Ketepatan saat itu waktu mendekati waktu
Maghrib, pembahasan mengenai yayasan tidak terlalu panjang lebar. Masalah
biografih KH. Jailani tindak lanjutnya diserahkan kepada Salman Rusydi Anwar,
alumni Nasy-atul Muta’allimin yang sekarang ada di Yogyakarta. Dan, pertemuapun
diakhiri oleh KH. Syafiq.(Sardi)


Posting Komentar