Bertatap Muka dengan Wajah Para Alumni

Sabtu, 15 Juni 20130 komentar



Sore (Rabu 12 April) itu langit tidak begitu cerah. Mendung masih memayungi bumi Nasy-atu Muta’allimin. Terasa sedikit dingin suasan saat itu. Di ruangan, sebelah barat kantor MA, projector sudah menyala. Lewat projector terlihat jelas di tembok “Pertemuan Alumni Nasy-atul Muta’allimin Candi Dungkek”. Hari itu bertepatan dengan hari pembukaan Haflatul Imtihan.
Ya, ruangan itu memang dijadikan tempat pertemuan alumni sore itu. Ketika jam menunjukkan ke angka tiga, sudah ada alumni yang hadir termasuk saya sendiri. Saya melihat kesekitar, masih sedikit alumni yang hadir, saya coba telpon teman-teman yang seangkatan dengan saya mapun kakak kelas saya. Ternyata, beberapa menit kemudian teman-teman hadir dan masuk keruangan yang telah disediakan.
Hadirnya para alumni ternyata menjadi penghangat bagi saya dan teman-teman. Kehangatan itu disebabkan karena bertahun-tahun tidak berjumpa dan berkumpul dalam satu ruangan seperti dulu ketika masih sama-sama aktif menjadi siswa. Wajah teman-teman tidak jauh berbeda masih seperti dulu, masih memancar sebagai siswa Nasy-atul Muta’allimin.
Dalam ruangan, pertemuan dipimpin oleh KH. Syafiq wakil kepala MA (WAKA). Selesai pembukaan, beliau menyapaikan bahwa di ruangan ini tidak ada istilah “Pak” yang punyak orentasi “guru” yang harus di segani. Di sini semua sama, sama-sama alumni Nasy-atul Muta’allimin. Beliau melanjutkan, dalam pertemuan ini kita bahas bersama-sama bagaimana langkah Nasy-atul Muta’allimin kedepan dan juga sebagai bahan refleksi Madrasah Nasy-atul Muta’allimin.
Semua teman-teman mulai berfikir dan satu persatu menyampaikan idenya tentang masa depan Nasy-atul Muta’allimin. Yang menjadi pembicaraan dalam pertemuan, masalah perpustakaan, mengenai yayasan, dan perencanaan penyusunan biografi pendiri, KH. Jailani.
Pertama teman-teman membahas perpustakaan yang sempat mandek beberapa bulan ini. Mereka (para teman-teman) bermaksud ingin memaksimalkan perpustakaan supaya menjadi mediator dalam mencerdaskan siswa siswi Nasy-atul Muta’allimin. Mereka kembali berfikir keras mencari langkah awal untuk mengaktifkan kembali  perpustakaan itu.
Waktu terus berjalan,  mereka satu persatu menyampaikan gagasannya tentang langkah-langkah awal yang harus dibenahi. Akhirnya, mereka menyepakati membuat Tim dalam memaksimalkan perpustakaan itu. Tim itu anggotanya ialah saya sendiri (Sardiyono), Syamsi, Hamdan, Rusdiyono, Salman, Ermawati, dan Rofida.
Ketika berbicara Tim, saya ingat pada sejarah NU pada tahun 1952-1983. Dimana saat itu NU mengalami gejolak internal dalam NU sendiri. Saat itu seolah NU bukan organisasi sosial keagamaan lagi, NU lebih pada organisasi politik. Kantor NU ramai dan sibuk  hanya ketika menyongsong pemilihan umum. Orang-orang datang dari daerahnya. Khawatir susunan calon tidak sesuai dengan keinginannya. NU pada saat itu sudah mau kehilangan jati dirinya.
Keadaan ini diperparah dengan wafatnya Kiai Bisri Syansuri pada tahun 1980. Beliau pada saat itu memegang amanah sebagai Rais Am PBNU. Akibatnya, kekosongan jabatan terjadi selama satu setengah tahun. Pada tahun 1981 posisi dipercayakan kepada KH. Ali Maksum melalui Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta.
Keadaan ini diperparah lagi oleh dualisme kepemimpinan antara gerbong Idham Khalid yang dikenal dengan kubu Cipate dan gerbong Kiai Ali Maksum yang dikenal dengan kubu Situbondo. Setahun kemudian dualisme ini terjadi sampai akhirnya untuk menyelesaikan konflik, kubu Cipate berencana mengadakan muktamar dan kubu Situbondo berencana mengadakan Munas Alim Ulama.
Di tengah keadaan yang seperti itu, aktivis muda NU kerap mengadakan diskusi yang bernama kelompok G. Anggotanya dr Fahmi D Saifuddin, Said Budairy, Mahbub Djunaidi, M Zamroni, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dkk. Kelompok G itu setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya melahir Tim Tuju bertujuan untuk menyampaikan gagasan tentang Khittah NU 1926. Rumusan itu menjadi pembahasan  resmi ketika dalam Munas Alim Ulama di Ponpes Syalafiayah Syafi’iyah Situbondo. Dan, Tim Tujuh itu akhirnya berhasil.
Itu di NU sekarang di Nasy-atul Muta’allimin, semoga Tim Nasy-atul Muta’allimin itu juga meraih keberhasilan sama dengan Tim Tujuh NU itu.
Pembahasanpun pindah, yaitu mengenai yayasan. Ketepatan saat itu waktu mendekati waktu Maghrib, pembahasan mengenai yayasan tidak terlalu panjang lebar. Masalah biografih KH. Jailani tindak lanjutnya diserahkan kepada Salman Rusydi Anwar, alumni Nasy-atul Muta’allimin yang sekarang ada di Yogyakarta. Dan, pertemuapun diakhiri oleh KH. Syafiq.(Sardi)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Al-Jailani | Nasy-atul Muta'allimin
Copyright © 2011. Nasy-atul Muta'allimin - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website by Nasy-atul Muta'allimin
Proudly powered by Cholis