![]() |
| Siswa/i Istighasah di Makam Pendiri, KH. Jailani |
Haflatul Imtihan ialah akhir dari
sebuah pelajaran (dirasa) di madrasah (sekolah). Haflatul Imtihan
sebagai bentuk rasa syukur atau perayaan dari santri (siswa). Selanjutnya akan
disebut santri selama satu tahun mengikuti kegiatan belajar mengajar. Satu minggu
--ada yang lebih-- sebelum haflatul imtihan terdiri banyak lomba yang
diselenggarakan oleh pihak sekolah. Santri pada gembira dalam menyemarakkan
perayaan ini.
Seperti halnya di madrasah Nasy-atul
Muta’allimin. Pagi itu madrasah Nasy-atul Muta’allimin mendadak ramai sekali di
halamannya. Karamaian terjadi karena semua santri berhambur keluar. Tampak
beberapa guru untuk menertibkan semua santri yang ada di halaman madrasah.
Mereka (para guru) begitu telaten membetulkan baris berbaris santrinya. Tak
lama, semua santri itu berjalan mengikuti jalan raya menuju makam pendiri
madrasah, KH. Jailani yang berjarak ± 200 meter ke selatan dari madrasah. Para
santri itu berbaris rapi bersama teman-temannya untuk beristighasah ke makam KH.
Jailani.
Betul hari Rabu tanggal 12 Juni,
dimana hari itu adalah hari pembukaan Haflatul Imtihan. Pembukaannya, dibuka
dengan istighasah di makam pendiri, KH. Jailani oleh para guru, siswa,
karyawan, dan masyarakat sekitar Nasy-atul Muta’allimin. Istighasah ini
sebagai tanda hormat pada pendiri, KH. Jailani atas jasanya.
Dimakam itu, setelah semua santri,
guru, karyawan, dan masyarakat sampai, KH. Muslim (ketua yayasan Al-Jailani)
menyambutnya. Beliau menyampaikan lewat soun sistem bahwa istighasah ini untuk do’a
bersama, semoga pendiri diberikan tempat yang baik di sisi-Nya juga Haflatul
Imtihan merupakan gawe dari madrasah Nasy-atul Muta’allimin semoga berjalan
lancar. Seketika para santri dan semua orang yang ada di makam itu
mengamininya.
Tak lama kemudian, seusai KH. Muslim
itu menyampaikan beberapa hal, istghasah dimulai dipimpin langsung oleh
KH. As’adi AS., pengasuh madrasah Nasy-atul Muta’allimin dan KH. Hanafi, dewan
guru madrasah. Sesaat, semua yang hadir ke makam itu larut kedalam asma-asma
suci Allah Swt. Afdlalu dzikri qaulu Lããilaha illallaah.
Hampir sejam, istighasah itu
selesai. Semua santri dan semua yang hadir ke makam itu kembali ke madrasah
dengan tertib. (Sardi)




Posting Komentar